Waspada, 3 Golongan ini Sering Jadi Target Empuk Penyebar Hoax

     Berita bohong atau hoax kini telah marak terjadi di Indonesia mengingat masyarakat Indonesia saat ini sudah banyak menggunakan internet sebagai sumber berita utama selain siaran media massa di televisi atau surat kabar.

     Berdasarkan data yang dirilis oleh lembaga riset pasar e-Marketer populasi pengguna internet di Indonesia selalu mengalami peningkatan tiap tahunnya dan menduduki peringkat ke-6 dunia dan perlahan mengalahkan Jepang di peringkat ke 5. Tahun 2013 jumlah pengguna internet di Indonesia hanya sekitar 72.8 juta jiwa dan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2018 mencapai 123 juta jiwa.

     Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap penyebaran informasi lewat internet. Bila kita tidak jeli dalam memilah berita, bisa saja kita akan menerima berita bohong atau hoax yang tentu akan merugikan bagi negeri ini. Beberapa golongan ini bisa saja menjadi sasaran empuk bagi saracen untuk menyebarkan berita bohong atau hoax, jadi berhati-hatilah.

1. Pengguna Internet Baru

Hoax memang lebih banyak beredar melalui internet, banyak sekali saracen yang akan membuat situs hoax yang memuat ujaran-ujaran kebencian atau memutarbalikkan fakta sehingga apa yang kita baca akan menjadi berbeda dengan kenyataan yang ada.

Pengguna internet baru menjadi sasaran paling empuk saracen yang ada karena pengguna internet ini akan merasa bangga ketika mereka dapat sebuah berita dan menyebarkannya terlebih dahulu. Pengguna internet baru ini bukan hanya berasal dari golongan anak muda yang baru mengenal gadget saja namun bisa juga orang dewasa yang baru mengenal internet.

Biasanya golongan ini akan membaca berita-berita yang muncul pertama di beranda internet yang mereka akses tanpa mengecek ulang situs online yang mereka apakah kredibel atau tidak. Terkadang juga golongan ini akan dengan mudah menyebarkan informasi yang mereka dapatkan dari grup-grup whatsapp yang mereka ikuti.

2. Golongan Fanatisme

Image 2 via unsplash/@jromeo

     Bukan hanya pengguna internet baru, golongan fanatisme akan sangat dengan mudah terpapar jaringan saracen. Mengapa demikian? Karena golongan fanatisme ini akan memilah berita yang mereka dapatkan sesuai dengan opini yang mereka miliki.

     Golongan jenis ini akan mencari pembenaran akan opini dan subjektivitas yang mereka miliki sehingga dengan mudah saracen akan mempengaruhi dan mengarahkan mereka ke dalam lingkaran hoax. Objektivitas dalam mencari informasi akan sulit didapatkan dalam golongan ini.

     Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi yang valid kita perlu menjadi netral tanpa memihak salah satu pihak dan mencari situs terpercaya serta menghindari situs-situs dan juga artikel yang hanya berdasarkan pada opini saja. Terlebih artikel yang dimuat itu menyinggung golongan mereka, dengan sepenuh hati mereka akan membela golongan yang mereka percaya benar.

3. Golongan Mahasiswa

Image 3 via unsplash/@rwapixel

     Siapa sangka golongan mahasiswa juga dianggap menjadi sasaran empuk bagi penyebar hoax. Meskipun mahasiswa dikenal memiliki pendidikan yang cukup untuk memilah berita, namun mahasiswa ini juga bisa menjadi tombak yang sangat ampuh untuk menyerang suatu golongan.

     Seperti kita lihat saat ini, banyak sekali gerakan-gerakan mahasiswa yang memang dengan sengaja dibentuk untuk menjatuhkan pemerintah atau golongan tertentu. Mahasiswa selalu memiliki cara untuk membenarkan opini mereka dengan dilindungi oleh undang-undang kebebasan berpendapat, meskipun belum bisa dipastikan apakah yang menjadi tuntutan mereka benar adanya atau hanya berdasarkan survei yang mereka lakukan di beberapa titik saja.

     Meskipun tidak semua mahasiswa mampu digerakkan oleh hoax yang beredar. Sebagai mahasiswa yang terdidik, kita harus memberikan contoh yang baik bagi masyarakat yang ada. Gunakan kebebasan berpendapat untuk hal yang umum dan dengan cara yang benar.

     Apabila menghendaki untuk berdemo, gunakan cara yang santun dan dengan tidak memprovokasi orang lain agar ikut apa yang kita mau. Menyampaikan pendapat memang dilindungi oleh undang-undang, namun juga harus didasarkan pada data yang valid atau bisa juga menggunakan riset sebelum menyampaikan pendapat.

     Berhati-hatilah dalam mendapatkan informasi dan jangan langsung menyebarkan informasi yang kita dapatkan sebelum kita mendapatkan informasi yang valid. Perlu diketahui untuk saat ini pemerintah bersama polri mulai bergerak memerangi hoax.

     Penyebar hoax di dunia maya akan dikenakan hukuman pidana penjara selama 6 tahun atau denda setidaknya Rp. 1 miliar rupiah berdasarkan Undang-undang ITE pasal 28 ayat 1. Pemerintah juga membentuk Undang-undang No.19 tahun 2016 pasal 40 ayat 2 yang mengatur tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sehingga diharapkan masyarakat dapat berhati-hati dalam menyebarkan berita.

Kamu pasti tidak menyangka, ada setidaknya tiga golongan yang sering menjadi target empuk para penyebar berita bohong. Jangan-jangan kamu salah satunya! Cek yuk.

 

Edited by Fitria (28/9/2018)
...